Microsoft Pecat Tim Pengawas, Janji Tetap Beretika Gunakan AI
CNN Indonesia · 30 Mar 2023 2.7K Views

Microsoft memberhentikan tim Etika dan Masyarakat (ethics and society) yang merupakan bagian dalam tim kecerdasan buatan (AI). Tim itu bertugas mengajari karyawan Microsoft untuk menggunakan teknologi AI sesuai etika.

Dikutip dari The Verge, pemecatan itu merupakan bagian dari PHK yang berdampak kepada 10 ribu karyawan Microsoft. Pemecatan tim tersebut membuat Microsoft tidak memiliki tim khusus yang berfungsi memastikan prinsip-prinsip AI terkait erat dengan etika desain produk.

Salah satu karyawan yang kini sudah terkena PHK mengatakan Microsoft masih mempertahankan kantor AI (Office of Responsible AI) yang bertanggung jawab aktif bertugas membuat aturan dan prinsip inisiatif AI perusahaan.

 

Di samping itu, perusahaan juga mengatakan investasi keseluruhan dalam pengembangan AI tetap meningkat kendati ada PHK karyawan.

"Microsoft berkomitmen untuk mengembangkan produk dan pengalaman AI dengan aman dan bertanggung jawab, dan melakukannya dengan berinvestasi pada manusia, proses, dan kemitraan yang memprioritaskan ini," kata Microsoft dalam sebuah pernyataan.

Lebih lanjut, Microsoft mengatakan pihaknya selama enam tahun terakhir telah meningkatkan jumlah pegawai di seluruh tim pengembangan produk di organisasinya.

"Kami semua di Microsoft, bertanggung jawab untuk memastikan bahwa kami menerapkan prinsip AI kami. Kami menghargai pekerjaan luar biasa yang dilakukan oleh Ethics & Society untuk membantu kami dalam perjalanan AI kami yang bertanggung jawab," tuturnya.

Tetapi, salah satu karyawan mengatakan tim Ethics dan Society berperan penting dalam memastikan prinsip AI Microsoft tetap bertanggung jawab dan tercermin dalam desain produk yang dirilis.

"Tugas kami adalah menunjukkan kepada mereka dan membuat aturan di area yang sebelumnya tidak ada," ujar salah satu mantan karyawan.

Dalam beberapa tahun terakhir, tim ini merancang desain yang disebut Judgment Call untuk membantu desainer membayangkan potensi bahaya yang ditimbulkan AI dan berdiskusi selama pengembangan produk.

Baru-baru ini, tim tersebut juga telah bekerja untuk mengidentifikasi risiko yang ditimbulkan oleh adopsi teknologi OpenAI oleh Microsoft di seluruh rangkaian produknya.

Jumlah tim Ethics dan Society mencapai puncaknya pada tahun 2020 ketika memiliki sekitar 30 karyawan dari beragam latar belakang seperti insinyur, desainer, dan filsuf.

Namun pada Oktober lalu, tim dikurangi menjadi sekitar tujuh orang sebagai bagian dari reorganisasi.

Dalam pertemuan dengan tim setelah reorganisasi, John Montgomery, wakil presiden perusahaan AI memberi tahu para karyawan bahwa pimpinan perusahaan telah menginstruksikan mereka untuk bergerak cepat.

"Tekanan dari [CTO] Kevin [Scott] dan [CEO] Satya [Nadella] sangat, sangat tinggi untuk mengambil model OpenAI terbaru ini dan yang datang setelahnya dan memindahkannya ke tangan pelanggan dengan kecepatan yang sangat tinggi, katanya, menurut rekaman suara pertemuan yang diperoleh Platformer.

Karena tekanan itu, kata Montgomery, sebagian besar tim akan dipindahkan ke area lain dalam organisasi. Di saat bersamaan, beberapa anggota tim memutuskan mundur.

"Saya akan berani untuk meminta mempertimbangkan kembali keputusan ini," kata seorang karyawan lewat telepon.

Sebagian besar anggota tim dipindahkan ke divisi lain dalam Microsoft. Setelah itu, anggota tim Ethics dan Society yang tersisa mengatakan kru yang lebih kecil mempersulit penerapan rencana ambisius mereka.

Kemudian pada 6 Maret, karyawan yang tersisa disuruh bergabung via Zoom pada untuk mendengarkan "pembaruan penting bisnis" dari Montgomery.

Selama pertemuan, mereka diberitahu bahwa tim mereka akhirnya dieliminasi. Seorang karyawan mengatakan langkah tersebut meninggalkan celah mendasar pada pengalaman pengguna dan desain holistik produk AI.

Pemecatan tim yang berkaitan dengan AI bukan kali pertama terjadi. Platformer melaporkan, Google pernah melakukan pemecatan serupa terhadap tim etik dan periset yang berkaitan dengan AI bernama Timnit Gebru.

Reprinted from CNN Indonesia , the copyright all reserved by the original author.

Affected Trading Instrument

*Risk Disclaimer: The content above represents only the views of the author. It does not represent any views or positions of Maxco and does not mean that Maxco agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the Maxco, Maxco does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.

Recommend