Inflasi Tinggi dan Resesi Global Semakin Nyata
Kompas · 31 Oct 2022 738 Views

TIDAK untuk menakut-nakuti, faktanya dunia menghadapi resesi ekonomi serius. Dalam publikasi World Economic Outlook (WEO) bulan Oktober 2022, IMF memproyeksikan pada tahun 2022 dan 2023 terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi yang merata dan kenaikan inflasi tertinggi dalam beberapa dekade.

Ada dua alasan yang dikemukakan. Pertama dampak berlanjut dari pandemi Covid-19 dan invasi Rusia ke Ukraina semakin menyumbat disrupsi pasokan energi dan pangan dunia.

Keduanya secara simultan berdampak buruk pada meningkatkan biaya hidup dari sektor energi dan pangan.

Untuk mengerem laju inflasi, banyak negara merespons dengan cara menaikkan suku bunga bank sentral dan kebijakan sektor keuangan yang ketat sejak awal 2022.

Pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan melambat dari 6 persen pada 2021 menjadi 3,2 persen pada 2022 dan 2,7 persen pada 2023. Proyeksi pertumbuhan ekonomi saat ini adalah terburuk sejak 2001.

Inflasi global diperkirakan meningkat dari 4,7 persen pada 2022 menjadi 8,8 persen pada 2022. Meskipun akibat suku bunga tinggi pada 2022, diharapkan tahun 2023 menurun menjadi 6,5 persen pada 2023.

Kebijakan moneter ditujukan memulihkan stabilitas harga, sementara kebijakan fiskal ditujukan menurunkan tekanan pada biaya hidup atau cost of living.

Kebijakan moneter yang ketat dibarengi dengan disiplin kebijakan fiskal perlu dilakukan sementara untuk mendinginkan perekonomian.

Namun miskalukasi dalam pengetatan kebijakan moneter global dapat berakibat pada apresiasi dollar AS yang berlebihan dan depresiasi mata uang di dalam negeri, seperti rupiah.

Di dalam negeri kenaikan suku bunga dan kebijakan fiskal yang memperketat pengeluaran akan berakibat pada hambatan sektor riil dan program sosial. Ini dilema yang dihadapi dalam kebijakan layaknya sebuah vicious circle.

 
Reprinted from Kompas , the copyright all reserved by the original author.

Recommend