Ini Alasan SKK Migas Terus Kejar Target Produksi Minyak RI 1 Juta Barel
Detik · 23 Nov 2023 96.1K Views
Harga Minyak Anjlok
Jakarta

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengaku akan terus mengejar target produksi minyak Indonesia sebanyak satu juta barel per hari (bph), meskipun hingga saat ini pemerintah pusat terus berupaya melakukan transisi energi bersih menuju Net Zero Emission 2060.

Wakil Kepala SKK Migas Nanang Abdul Manaf mengatakan pada 2030 nanti Indonesia diprediksi membutuhkan setidaknya 2,27 juta barel minyak per hari. Padahal hingga saat ini tingkat produksi minyak dalam negeri masih kurang dari 600 ribu barel per hari.

Bila produksi dalam negeri ini tidak mengalami peningkatan hingga 2030 mendatang, maka Indonesia dirasa akan sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Untuk itu ia merasa produksi minyak RI perlu ditingkatkan hingga 1 juta barel per hari untuk mengurangi kebutuhan impor.

"Dewan energi nasional dalam perencanaan energi nasional ke depan, 2030 kebutuhan minyak kita itu adalah 2,27 juta barel (per hari). Jadi kalau kita tidak punya cita-cita, keinginan, ambisi, untuk bisa mencapai kembali produksi minyak di tahun 2030 minimal 1 juta (barel/hari)," ungkap Nanang dalam acara Forum Kapasitas Nasional III SKK Migas di JCC, Kamis (23/11/2023).

"Kalau memang worst case itu terjadi (tidak bisa produksi minyak 1 juta barel/hari), kebutuhan kita saja sudah 2,27 juta (barel/hari). Jadi kalau kita hanya mengandalkan produksi saat ini tidak ada upaya-upaya dan sebagainya, berapa besar gap kekurangan kita yang harus impor," tambahnya.

Selain itu Nanang juga berpendapat bila pertumbuhan ekonomi dan populasi RI yang terus meningkat membuat konsumsi energi semakin besar. Karenanya ia merasa tidak mungkin bagi Indonesia untuk mengandalkan satu sumber energi saja, dalam hal ini energi bersih-terbarukan.

"Dengan economic growth, dengan GDP yang naik, dengan populasi yang naik, otomatis (kebutuhan) energi juga naik dalam hal ini juga minyak dan gas. Nah Indonesia tidak mungkin mengandalkan salah satu sumber energi saja, suatu saat misalkan kita ingin 100% dipenuhi green energy, tidak mungkin karena sumber kita tidak cukup untuk memenuhi populasi kita yang besar," terang Nanang.

Untuk itu ia berpendapat pilihan paling tepat untuk Indonesia adalah menggunakan sumber daya energi campuran atau energy mix. Dengan cara ini pemerintah dapat terus memenuhi kebutuhan energi nasional sembari mengurangi persentase penggunaan energi fosil.

"Maka porsi Indonesia adalah menggunakan energy mix. Memang di satu sisi presentasi kita akan turun (penggunaan energi migas) dari tahun ke tahun sejalan dengan komitmen negara kita untuk net zero emission di tahun 2060 atau lebih cepat," pungkasnya.

Reprinted from Detik , the copyright all reserved by the original author.

Affected Trading Instrument

*Risk Disclaimer: The content above represents only the views of the author. It does not represent any views or positions of Maxco and does not mean that Maxco agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the Maxco, Maxco does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.

Recommend