Harga Emas Anjlok, Tertekan Dolar dan Ekonomi AS
Bisnis · 31 Oct 2022 960 Views


Bisnis.com
, JAKARTA - Harga emas kembali merosot pada akhir perdagangan Jumat atau Sabtu pagi WIB kemarin, karena dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS menguat.

Penguatan dolar yang menekan harga emas terjadi setelah rilis data produksi domestik bruto (PDB) kuartal III/2022 di AS lebih kuat dari perkiraan, menunjukkan ekonomi negara itu bernasib lebih baik di bawah rezim kenaikan suku bunga.

Harga emas Comex paling aktif untuk pengiriman Desember turun tajam US$20,80 atau 1,25 persen menjadi US$1.644,80 dolar AS per ounce, mengutip Antara.

Dolar AS menguat pada perdagangan Jumat (28/10/2022) karena para pedagang bereaksi terhadap data ekonomi positif yang baru dirilis. Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,15 persen menjadi 110,7520.

Tanda-tanda ketahanan dalam ekonomi AS memberi Federal Reserve lebih banyak ruang untuk terus menaikkan suku bunga yang tajam. Ini mendorong dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS lebih tinggi, yang menekan harga logam mulia.

Data PDB AS yang lebih kuat dari perkiraan pada Kamis (27/10/2022) juga mendinginkan ekspektasi bahwa Fed akan melunakkan laju kenaikan suku bunga pada Desember, dengan para pedagang meningkatkan ekspektasi mereka untuk kenaikan 75 basis poin.

Departemen Perdagangan AS melaporkan pada Jumat (28/10/2022) bahwa indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS naik 0,3 persen pada September, menyamai kenaikan pada Agustus. Ini mungkin membuat Federal Reserve di jalur untuk menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin, sehingga mengurangi daya tarik emas.

Indeks sentimen konsumen Universitas Michigan datang pada pembacaan 59,9 untuk Oktober, pada dasarnya tidak berubah dari angka pada September.

Amerika Serikat (AS) akhirnya keluar dari jurang resesi setelah ekonomi negara tersebut tumbuh 2,6 persen pada kuartal III/2022.

Dikutip dari Bloomberg pada Kamis (27/10/2022), capaian tersebut merupakan kenaikan pertama tahun ini. Konsumsi masyarakat AS terbukti tangguh dalam menghadapi inflasi yang meluas dan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang melaju cepat.

Perkiraan awal Departemen Perdagangan menunjukkanProduk domestik bruto (PDB) AS naik 2,6 persen (year-on-year/yoy) pada periode Juli hingga September 2022, setelah jatuh untuk dua kuartal pertama tahun ini.

Reprinted from Bisnis , the copyright all reserved by the original author.

Affected Trading Instrument

*Risk Disclaimer: The content above represents only the views of the author. It does not represent any views or positions of Maxco and does not mean that Maxco agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the Maxco, Maxco does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.

Recommend