Harga Minyak Dunia Turun Dipicu Penguatan Nilai Tukar Dollar AS
Kompas · 03 Feb 2023 385 Views

NEW YORK, KOMPAS.com – Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan pada perdagangan Kamis (2/2/2023) waktu setempat atau Jumat pagi waktu Indonesia. Penurunan harga minyak mentah terjadi akibat sentimen data ekonomi dan nilai tukar dollar AS yang menguat.

Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent turun 1,04 persen menjadi 81,98 dollar AS per barrel, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada pada posisi 75,77 dollar AS per barrel atau turun 0,84 persen.

Harga minyak menetap lebih rendah karena pesanan pabrik terkait industri AS turun, sementara nilai tukar dollar AS menguat. Hal ini membuat minyak mentah lebih mahal untuk pembeli non-AS.

Berdasarkan data Departemen Perdagangan AS terbaru, pesanan baru untuk barang manufaktur AS naik secara luas pada bulan Desember 2023, sementara pesanan untuk peralatan industri dan mesin lainnya turun.

“Hal itu menyoroti lebih banyak perlambatan ekonomi, terutama di sisi industri, yang berdampak negatif bagi minyak bumi,” kata John Kilduff, partner di Again Capital.

“Rebound yang terjadi dalam indeks dollar AS, telah mencapai level terendah pada sembilan bulan di awal sesi karena taruhan kenaikan suku bunga Federal Reserve AS yang lebih lemah, juga membebani harga minyak,” kata Jim Ritterbusch dari Ritterbusch and Associates.

Greenback yang lebih kuat membuat minyak yang dihargakan dalam dollar AS lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Sementara itu, The Fed yang menaikkan suku bunga dengan target sebesar seperempat persentase poin di awal minggu, menjanjikan peningkatan ekonomi berkelanjutan, termasuk dalam biaya pinjaman sebagai bagian dari perjuangannya melawan inflasi.

"Inflasi agak mereda tetapi tetap tinggi," kata bank sentral AS dalam sebuah pernyataan.

Sementara inflasi tampaknya telah melambat di negara-negara ekonomi utama dunia. Bank Sentral menilai, hal ini karena cepatnya pembukaan kembali dari penguncian Covid-19.

“Investor menjadi kurang percaya diri dengan kekuatan prospek. Ini sesuatu yang dapat kita lihat berubah berulang kali pada kuartal pertama ini karena kurangnya visibilitas suku bunga dan transisi Covid-19 di China,” kata Craig Erlam, analis pasar senior di OANDA.

 
Reprinted from Kompas , the copyright all reserved by the original author.

Affected Trading Instrument

*Risk Disclaimer: The content above represents only the views of the author. It does not represent any views or positions of Maxco and does not mean that Maxco agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the Maxco, Maxco does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.

Recommend