BI: Sekitar 6 Miliar Dollar AS Cadangan Devisa RI Dialokasikan untuk Obligasi Berkelanjutan
Kompas · 03 Nov 2022 762 Views

JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) mengalokasikan sekitar 5 persen dari total cadangan devisa Indonesia atau sekitar 6 miliar dollar AS dalam bentuk obligasi berkelanjutan.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, upaya BI ini sama dengan bank sentral negara lain yang tengah mencoba untuk menyelaraskan portofolio mereka ke portofolio hijau.

Hal ini merupakan salah satu komitmen BI untuk mendukung inisiatif hijau di sektor keuangan, yakni dengan mengarahkan kebijakan moneter dan makro prudensialnya ke sektor yang berkelanjutan.

"Sekitar 5 persen dari portofolio kami dalam cadangan devisa kami dialokasikan untuk obligasi berkelanjutan," ujarnya saat acara Mandiri Sustainability Forum 2022, Rabu (2/11/2022).

Selain itu, pada 2020, BI juga telah mendorong pembiayaan hijau untuk bangunan hijau dan kendaraan listrik melalui kebijakan relaksasi loan to value (LTV) hingga 100 persen untuk kredit properti hijau dan uang muka (down payment/DP) 0 persen untuk kredit kendaraan listrik.

"Jadi ini adalah tindakan nyata yang dilakukan oleh Bank Indonesia, bagaimana kami menerapkan kebijakan kami yang memberikan dukungan pada pembiayaan hijau atau pembiayaan berkelanjutan," ucapnya.

Kemudian pada 2022, BI juga memperkenalkan peraturan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) bagi bank umum untuk meningkatkan minat penerbitan obligasi hijau dengan memperbolehkan perbankan untuk memenuhi rasio pembiayaan dengan membeli obligasi hijau.

Dia bilang, RPIM ini telah mendorong pemerintah Indonesia untuk menerbitkan sukuk hijau domestik dan obligasi berkelanjutan domestik sehingga kebijakan makroprudensial ini berdampak pada pembiayaan hijau.

"Jadi meski peraturan RPIM hijau baru diperkenalkan baru-baru ini, telah menciptakan permintaan yang signifikan untuk obligasi hijau domestik," kata Destry.

Dari sisi operasi moneter, BI juga menerima obligasi berkelanjutan sebagai jaminan bagi perbankan untuk mendapatkan likuiditas dari BI melalui operasi pasar.

"Oleh karena itu bagi bank yang telah memiliki sustainable atau green bond atau ESG bond, jika bank membutuhkan likuiditas dari BI, maka mereka dapat repo obligasinya ke bank sentral dan mereka akan mendapatkan likuiditas rupiah untuk membiayai proyek yang berkelanjutan," jelasnya.

 
Reprinted from Kompas , the copyright all reserved by the original author.

Recommend