Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini, 18 November 2022
Bisnis · 18 Nov 2022 205 Views


Bisnis.com
, JAKARTA – Nilai tukar rupiah hari ini diprediksi melanjutkan pelemahan, setelah kemarin Bank Indonesia menaikkan lagi suku acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin (bps) atau 0,5 persen menjadi 5,25 persen.

Berdasarkan data Bloomberg, kemarin (17/11/2022), rupiah mengakhiri perdagangan dengan pelemahan sebesar 0,40 persen atau 63 poin ke Rp15.662,50 per dolar AS. Mata uang di kawasan Asia juga turut terkoreksi.

Kemarin, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan BI dalam menaikkan suku bunga acuan merupakan langkah front-loaded, pre-emptive, dan forward looking dalam menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasaran lebih cepat dari target.

"Selain itu, Gubernur BI juga menyebut peningkatan suku bunga acuan ini untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global dan makin kuatnya dolar AS," jelas Ibrahim dalam laporannya, dikutip Jumat (18/11/2022). 

Sementara itu, pemulihan ekonomi Indonesia terus berlanjut ditopang oleh konsumsi domestik dan investasi yang tumbuh dengan baik. Konsumsi domestik yang besar menyebabkan guncangan yang terjadi di tingkat global dapat diredam oleh solidnya ekonomi domestik.

Berdasarkan data terkini, meskipun ada ketidakpastian global namun ekonomi Indonesia mampu tumbuh, utamanya di antara negara-negara anggota G20 lainnya, yaitu sebesar 5,72 persen pada kuartal III/2022 yang lalu, setelah sebelumnya tumbuh 5,45 persen pada kuartal II/2022.

Dari luar negeri, mengutip Bloomberg, imbal hasil obligasi pemerintah AS naik pada Kamis setelah Presiden Fed St. Louis James Bullard mengatakan pembuat kebijakan harus menaikkan suku bunga setidaknya 5 persen hingga 5,25 persen untuk mengekang inflasi. 

Dia juga memperingatkan tekanan keuangan lebih lanjut ke depan. Dengan inflasi yang baru mulai mereda dan ukuran penjualan ritel AS meningkat pada laju tercepat dalam delapan bulan. Pernyataan The Fed dalam beberapa hari terakhir telah menekankan bahwa mereka perlu melangkah lebih jauh untuk memadamkan tekanan inflasi.

Reprinted from Bisnis , the copyright all reserved by the original author.

Affected Trading Instrument

*Risk Disclaimer: The content above represents only the views of the author. It does not represent any views or positions of Maxco and does not mean that Maxco agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the Maxco, Maxco does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.

Recommend