Hadapi Resesi Global 2023, Tingkatkan Investasi dan Produktivitas
Kompas · 09 Nov 2022 645 Views

ISU ‘resesi ekonomi global’ terus menguat seiring dengan keputusan Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas perkiraan pertumbuhan global tahun 2023.

Menurut IMF, kondisi ekonomi global dapat memburuk secara signifikan tahun 2023 karena negara-negara berada di tengah tekanan perang di Ukraina, harga energi dan pangan yang tinggi, inflasi dan suku bunga yang meningkat tajam.

Sebenarnya, resesi adalah suatu yang biasa dalam siklus ekonomi. Namun pelaku pasar melihat bahwa tren inflasi dan suku bunga yang terjadi belakangan ini berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi perekonomian.

Supply-side shock recession

Sejauh ini dikenal ada beberapa tipe resesi, meski tidak ada literatur resmi, tetapi kenyataannya memang pernah terjadi dan mengganggu kinerja perekonomian.

Jika melihat kondisi global saat ini, yang akan terjadi pada 2023 adalah tipe resesi yang disebut supply-side shock recession. Resesi tipe ini bermula dari inflasi tinggi yang melanda di berbagai negara diawali oleh tingginya harga energi.

Resesi tipe ini pernah terjadi tahun 1973 akibat masalah pasokan, dan harga minyak mentah. Saat itu harga minyak mentah meroket dan memicu inflasi tinggi. Alhasil bank sentral terpaksa menaikkan suku bunga yang berdampak pada stagflasi hingga resesi.

Namun, ekonom Amerika Serikat (AS) terkenal Nouriel Roubini baru-baru ini mengatakan resesi ekonomi yang akan datang (tahun 2023) bakal lebih buruk daripada yang terjadi pada tahun 1970-an. (www.bloomberg.com/20/20.2022).

Pendiri Amazon Jeff Bezos, yang menjalankan perusahaan terbesar kedua di AS juga memiliki perkiraan serupa. Ia mengatakan sudah waktunya untuk “memperketat palka.” Jika resesi baru belum dimulai di AS, tetapi itu akan segera terjadi. (www. fortune.com/19/102022).

Selama beberapa bulan terakhir, bank sentral di berbagai negara sangat agresif menaikkan suku bunga sebagai respons atas tren inflasi yang terus meningkat.

Bank sentral AS (The Fed) misalnya, sepanjang tahun ini mengalami kenaikannya sebesar 300 basis poin, menjadi antara 3 - 3,25 persen, dan itu masih akan terus berlanjut.

 
Reprinted from Kompas , the copyright all reserved by the original author.

Affected Trading Instrument

*Risk Disclaimer: The content above represents only the views of the author. It does not represent any views or positions of Maxco and does not mean that Maxco agrees with its statement or description, nor does it constitute any investment advice. For all actions taken by visitors based on information provided by the Maxco, Maxco does not assume any form of liability unless otherwise expressly promised in writing.

Recommend